Bisnis MLM (Multilevel Marketing) Baik atau Buruk?

Bisnis MLM Sebenarnya Menjanjikan, Namun Ada Yang Perlu Dipahami

Multi Level Marketing , atau biasa disingkat MLM, adalah salah satu bentuk investasi yang bisa Anda ikuti. Sayangnya, MLM di Indonesia masih kerap di pandang negatif, dari berbagai sisi. Padahal, di Amerika Serikat (AS), MLM diakui sebagai salah satu roda penggerak perekonomian negeri yang tengah dilanda krisis keuangan tersebut.

Bahkan, penulis Robert T. Kiyosaki yang terkenal dalam bukunya yang berjudul Poor Dad, Rich Dad, mengakui bahwa MLM bisa memberikan kemakmuran bagi anggotanya. Padahal, dahulu dalam berbagai tulisannya, Robert sempat mencerca MLM. Tak kurang dari pengusaha kondang AS sekaliber Donald Trump pun akhirnya terjun ke bisnis MLM, tanda bahwa usaha ini sangat menjanjikan.

Namun, menurut Febry Arsianto, dari Synergy Worldwide, sebelum mengikuti sebuah MLM Anda harus berhati-hati. Itu lantaran banyak sekali penawaran ala MLM. Febry menjelaskan bahwa sebelum bergabung di sebuah MLM, Anda harus tahu apakah MLM tersebut memiliki Surat Izin Usaha Penjualan Langsung yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan.

Sebaiknya, perusahaan MLM tersebut juga merupakan anggota APLI atau Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia, tegas Febry. “Karena dengan menjadi anggota APLI, kami bisa benar-benar mengawasi perusahaan tersebut supaya tidak keluar dari jalurnya.”

Lalu, Febry juga mengimbau agar Anda waspada dan paham skema bisnis MLM tersebut. Ikut MLM tentu harus bekerja. Dari mulai membangun jaringan, retail produk dan sebagainya untuk mendapatkan uang, kata Febry. Berbeda dengan money game di mana Anda memberikan uang, lalu tanpa berbuat apa-apa. Anda mendapatkan uang, alias easy money. Anda sebagai investor umumnya tidak tahu dan tidak mau tahu dari mana perusahaan tersebut membayarkan keuntungan.

Selain itu, dari pengamatan Febry, MLM berindikasi money game cenderung tidak memiliki produk yang jelas. Biasanya, Anda dijanjikan sebuah hasil investasi yang jauh lebih tinggi dari keuntungan bisnis riil, atau bila Anda berinivestasi di sekuritas, perbankan maupun investment banking.

Hal ini berbeda dengan MLM yang sesungguhnya, yaitu memiliki produk jelas dan bisa dipakai anggota MLM itu sendiri, tegas Febry. (bn)

Sumber: http://www.ciputraenterpreneurship.com

—————– end————-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s